Rabu, 02 April 2025

Perjalanan Ke KINTAMANI BANGLI BALI

Pagi itu, pukul 08.30 WITA, perjalanan dimulai menuju Kintamani, Bangli. Suasana perjalanan begitu tenang, dengan udara segar khas pegunungan yang semakin terasa saat mendekati tujuan. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua setengah jam, akhirnya tiba di Kintamani pada pukul 11.00 WITA.

Di sana, pertemuan dengan Pak Made Gianyar berlangsung dengan hangat. Beliau menerima dengan baik, menyambut dengan keramahan, dan menyampaikan kesediaannya untuk membantu sebisa mungkin. Setelah berbincang dan menyampaikan maksud kedatangan, akhirnya berpamitan dan melanjutkan perjalanan.

Sebelum pulang, sempat mampir ke rumah seorang teman, Made Widiantara, di Desa Manikliyu. Obrolan ringan dan suasana kekeluargaan membuat kunjungan terasa menyenangkan. Setelah itu, perjalanan pulang dilanjutkan hingga akhirnya tiba di rumah sekitar pukul 18.30 WITA.

Saat itu, ada satu hal menarik yang terjadi. Sebuah bunga pucuk yang masih kuncup didapatkan dari balik Baju yang dibuka dan jatuh ke lantai, dan secara tidak sengaja diletakkan di plangkiran dekat tempat tidur . Keesokan paginya, bunga itu telah mekar dengan begitu indah, seolah menyimpan suatu makna tersirat ( mangku istri yang melihatnya bahwa bunga yang diatas pelangkiran mekar ).

Dalam rasa penasaran, saya berkonsultasi dengan Jro Nawa dan disarankan setelah 3 hari untuk menggosokkan bunga itu ke wajah dan memakannya. Namun, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi. Ketika pagi tiba dan hendak sembahyang, bunga itu lenyap tanpa bekas, meninggalkan rasa takjub dan penuh perenungan.

Itulah pengalaman hidup yang terjadi di awal April ini, setelah Nyepi Kesanga, menyambut Warsa Anyar 1947 Caka. Sebuah peristiwa yang menghadirkan makna tersendiri, seolah menjadi pertanda yang hanya bisa dimengerti lewat hati dan perasaan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar